0

Kaderisasi Organisasi

KADERISASI ORGANISASI
(Tulisan lepas disampaikan pada diklat LMMT oleh BEM STKIP PGRI Tulungagung tanggal 27 April 2014)

Oleh:
Drs. Muniri, M.Pd
Dosen Tadris Matematika IAIN Tulungagung

Kaderisasi merupakan hal yang esensial bagi suatu organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke masa depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan dan mutlak diperlukan dalam membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan. Fungsi kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio atau regenerasi) yang siap melanjutkan tongkat estafet
perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang diharapkan. Bung Hatta pernah menyatakan tentang kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit”. Berarti untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus dipersiapkan.

Dari sini, pandangan umum mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek), yaitu individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi. Kedua, sasaran kaderisasi (obyek), yaitu individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas dan matang secara intelektual dan psikologis.

Sebagai subyek atau pelaku, dapat diartikan dalam pengertian umum dapat disebut seorang pemimpin, kaderisasi sama artinya dengan edukasi, pendidikan! Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah lain dapat berupa “sekolah-sekolahan”, “balai diklat”, “study club” daln lain-lain. Tugas pertama-tama seorang pemimpin adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa, etos sebagai seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya.

Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan kader-kader secara intens dalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para pendahulu-pendahulunya.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam kaderisasi adalah potensi dasar seorang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya telah dapat dilihat melalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya terhadap problema-problema sosial dilingkungannya. Jadi, di sana ada semacam landasan berfikir atau filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap organisasi/pergerakan. Dengan kata lain: harus ditemukan pola dan upaya mencari bibit-bibit unggul kaderisasi. Subyek harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan yang jelas dan memikat, serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang menantang bagi para kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati akan terlibat mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka organisatoris harus terlebih dahulu mematangkan visi-misi mereka; dan termasuk sikap mereka terhadap persoalan
yang mendesak dan aktual dalam lingkungan sosial; serta pada saat yang sama tersedianya para pengkader yang handal, untuk menggarap bibit-bibit potensial tersebut.

Kader-kader potensial ini setelah mereka memahami dan meyakini visi misi yang telah diinternalisasikan, maka jiwanya akan terpacu untuk berpartisipasi (bekerja, berkarya dan berkreasi) seoptimal mungkin. Oleh karenanya, organisasi/pergerakan dituntut untuk dapat mengantisipasi dan menyalurkannya secara positif. Sudah barang tentu sepatutnya organisasi/pergerakan mampu melakukannya, karena bukankah organisatoris terobsesi progresif bergerak maju dengan satu organisasi yang efisien dan efektif, bukan sebaliknya?.

Belakangan ini, sudah dimulai upaya ke arah kaderisasi yang berorientasi pada karya dan aksi sosial dalam level umum, berupa penumbuhan dan stimulasi etos intelektual dan sosial. Jadi, bagaimana menggabungkan atau menemukan konvergensi yang ideal antara aktifitas berpikir (belajar) sebagai [entitas mahasiswa] dan aktifitas aksi sosial sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai tekstual-normatif. Dengan kata lain, harus ditemukan titik keseimbangan antara nilai-nilai tekstual-normatif tadi dengan realitas-kontekstualnya ‘Alâ kulli hâl, tampaknya perlu dicermati kembali urgensi dari kaderisasi berkala yang dilakukan oleh organisasi apapun.

Kaderisasi merupakan kebutuhan internal organisasi yang mutlak harus dilakukan. Layaknya sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan perubahan secara alamiah. Namun hal penting yang harus pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna menghasilkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensi dan konsekwensinya.

Sukses atau tidaknya sebuah organisasi dapat diukur oleh kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Artinya wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki kapasitas, kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan.

Artikel lengkap dapat diakses di sini

Leave a reply